Untuk mengetahu nama2 ulat diatas coba deh simak di blog sebelah
Untuk serius nya mari bahas satu-satu berdasarkan info di tempat daerah dengan berbagai upaya menanggulangi populasi ulat bulu dan penanganan bila terkena serangn ulat bulu....
Kena Ulat Bulu, Kulit Bengkak dan Menghitam
Setelah Jawa Timur dan Bali, ulat bulu menyerang Jakarta. Ribuan ulat menggerayangi pohon-pohon cemara yang berjajar di sepanjang Kali Sekretaris di Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Tak hanya dibuat merinding melihat ulat-ulat bergerombol, warga juga kena dampaknya. "Bulu-bulu ulat terbawa angin, pakaian yang dijemur sampai air mandi juga dipenuhi bulu," kata Ani, ibu yang tinggal di seberang lokasi pohon cemara yang diserang ulat bulu, Rabu 13 April 2011.
Cukup kena bulu halus, kulit dijamin gatal. "Biasanya sampai bengkak, kalau digaruk jadi hitam. Obatnya, kami pakai minyak kayu putih," kata Ani.
Ulat bulu paling banyak dijumpai pagi hari atau sore hari sekitar pukul 18.00. "Anak-anak sudah kami larang mendekat, ulat-ulat itu juga nggak dibuat mainan seperti di Jawa."
Menurut Ani, keberadaan ulat bulu di pohon cemara bisa dilacak sejak tahun 2007. Namun, tahun ini lebih lama dari sebelumnya. "Ini bertahan sampai tiga bulan, biasanya cuma 1 bulan," kata Ani.
Petugas, tambah dia, sudah melakukan penyemprotan tiga hari lalu. "Setelah ada pemberitaan," tambah dia. Ani mengakui jumlah ulat bulu sedikit berkurang. "Tapi untuk tahu berkurang atau tidak, tunggu sebulan."
Keberadaan ulat-ulat bulu juga dikeluhkan Mamat, penjahit yang mangkal di depan pohon cemara yang kena wabah. "Ketika mau jahit banyak bulu-bulu di kain, saya nggak tahu terbangnya kapan."
Sebelumnya, petugas Kantor Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Barat, Sarkum mengatakan, ulat bulu di Tanjung Duren beda dengan Probolinggo. "Kalau di sini (Tanjung Duren) ulatnya, kan hanya di Pohon Cemara," kata dia.
Apakah jenis ulat bulu di Tanjung Duren sama dengan di Probolinggo, belum diketahui. Sample ulat bulu masih diperiksa Institut Pertanian Bogor.
Tak hanya dibuat merinding melihat ulat-ulat bergerombol, warga juga kena dampaknya. "Bulu-bulu ulat terbawa angin, pakaian yang dijemur sampai air mandi juga dipenuhi bulu," kata Ani, ibu yang tinggal di seberang lokasi pohon cemara yang diserang ulat bulu, Rabu 13 April 2011.
Cukup kena bulu halus, kulit dijamin gatal. "Biasanya sampai bengkak, kalau digaruk jadi hitam. Obatnya, kami pakai minyak kayu putih," kata Ani.
Ulat bulu paling banyak dijumpai pagi hari atau sore hari sekitar pukul 18.00. "Anak-anak sudah kami larang mendekat, ulat-ulat itu juga nggak dibuat mainan seperti di Jawa."
Menurut Ani, keberadaan ulat bulu di pohon cemara bisa dilacak sejak tahun 2007. Namun, tahun ini lebih lama dari sebelumnya. "Ini bertahan sampai tiga bulan, biasanya cuma 1 bulan," kata Ani.
Petugas, tambah dia, sudah melakukan penyemprotan tiga hari lalu. "Setelah ada pemberitaan," tambah dia. Ani mengakui jumlah ulat bulu sedikit berkurang. "Tapi untuk tahu berkurang atau tidak, tunggu sebulan."
Keberadaan ulat-ulat bulu juga dikeluhkan Mamat, penjahit yang mangkal di depan pohon cemara yang kena wabah. "Ketika mau jahit banyak bulu-bulu di kain, saya nggak tahu terbangnya kapan."
Sebelumnya, petugas Kantor Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Barat, Sarkum mengatakan, ulat bulu di Tanjung Duren beda dengan Probolinggo. "Kalau di sini (Tanjung Duren) ulatnya, kan hanya di Pohon Cemara," kata dia.
Apakah jenis ulat bulu di Tanjung Duren sama dengan di Probolinggo, belum diketahui. Sample ulat bulu masih diperiksa Institut Pertanian Bogor.
Berikut Imbauan Agar Tak Diserang Ulat Bulu
Kota Semarang sudah dikepung dengan daerah-daerah yang terkena serangan ulat bulu, seperti Kendal, Demak, dan Ungaran.
Karena itu, Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang melakukan upaya antisipasi ancaman serangan ulat bulu. Beberapa langkah antisipasi dilakukan agar ulat tidak masuk ke Semarang.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang Ayu Entys menjelaskan, langkah antisipasi diperlukan karena penyebaran ulat dapat terjadi setiap saat. Terlebih perkembangbiakan kupu-kupu menjadi ulat dapat maksimal karena sangat didukung cuaca hujan dan udara lembab.
“Gerak cepat bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi perbatasan yang terkena, yaitu perbatasan Kendal, Ungaran, Demak, Gunung Pati, di mana banyak kebun buah,” jelas Ayu.
Ayu menambahkan, meski hingga saat ini belum ada laporan warga mengenai serangan ulat bulu, Dispertan terus melakukan sosialisasi dan antisipasi.
Upaya antisipasi tersebut di antaranya dengan mengirimkan surat edaran kepada camat, lurah, diteruskan kepada RW dan RT untuk melakukan kerja bakti dan melakukan penyemprotan disinfektan.
“Warga bisa melakukan upaya pencegahan dengan membersihkan daun-daun kering yang ada di tanaman buah. Karena daun tersebut merupakan tempat untuk berkembang biak ulat bulu,” tambahnya.
Lebih jauh Ayu menyarankan kepada warga yang mempunyai kebun buah agar memasang jala untuk menjaring kupu-kupu bila memang jumlah kupu di lingkungan itu sangat banyak.
Bila tidak, jala tak perlu dipasang. “Jika memang dalam satu wilayah yang banyak terdapat kebun buah dan banyak terdapat populasi kupu-kupu, warga bisa memasang jala. Pemasangan jala tersebut bisa dibantu petugas dari Dinas Pertanian Kota Semarang,” sebutnya.
Karena itu, Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang melakukan upaya antisipasi ancaman serangan ulat bulu. Beberapa langkah antisipasi dilakukan agar ulat tidak masuk ke Semarang.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang Ayu Entys menjelaskan, langkah antisipasi diperlukan karena penyebaran ulat dapat terjadi setiap saat. Terlebih perkembangbiakan kupu-kupu menjadi ulat dapat maksimal karena sangat didukung cuaca hujan dan udara lembab.
“Gerak cepat bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi perbatasan yang terkena, yaitu perbatasan Kendal, Ungaran, Demak, Gunung Pati, di mana banyak kebun buah,” jelas Ayu.
Ayu menambahkan, meski hingga saat ini belum ada laporan warga mengenai serangan ulat bulu, Dispertan terus melakukan sosialisasi dan antisipasi.
Upaya antisipasi tersebut di antaranya dengan mengirimkan surat edaran kepada camat, lurah, diteruskan kepada RW dan RT untuk melakukan kerja bakti dan melakukan penyemprotan disinfektan.
“Warga bisa melakukan upaya pencegahan dengan membersihkan daun-daun kering yang ada di tanaman buah. Karena daun tersebut merupakan tempat untuk berkembang biak ulat bulu,” tambahnya.
Lebih jauh Ayu menyarankan kepada warga yang mempunyai kebun buah agar memasang jala untuk menjaring kupu-kupu bila memang jumlah kupu di lingkungan itu sangat banyak.
Bila tidak, jala tak perlu dipasang. “Jika memang dalam satu wilayah yang banyak terdapat kebun buah dan banyak terdapat populasi kupu-kupu, warga bisa memasang jala. Pemasangan jala tersebut bisa dibantu petugas dari Dinas Pertanian Kota Semarang,” sebutnya.
Basmi Ulat Bulu, Tawon & Semut Dikerahkan
Denpasar.Pemanfaatan hewan predator alami semut rangrang dan tawon terus dikembangkan untuk mengendalikan serangan ulat bulu yang menyerang tujuh Kabupaten/Kota di Bali.
Dua jenis predator ulat bulu, yakni tawon merah dan semut rangrang, mulai dimanfaatkan di dua daerah yakni di Kabupaten Jembrana dan Gianyar. Hasilnya, mampu ikut mengendalikan populasi ulat bulu.
Kadis Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali I Made Putra Suryawan, mengemukakan dua Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), sejak Jumat kemarin diterjunkan ke kedua kabupaten itu guna melakukan pengamatan dan pemantauan perkembangan populasi ulat bulu di Bali.
"Tim menemukan, terjadinya pengurangan populasi ulat bulu dengan adanya predator semut rangrang," kata Suryawan, dihubungi okezone, Sabtu (16/04/2011).
Hal itu terlihat saat mengamati populasi ulat bulu yang ditemukan di sebuah pohon kenangan dekat tempat suci di Banjar Satria Kelurahan Pendem. Saat pengamatan, warga yang ikut menyaksikan dikejutkan kedatangan seekor tawon merah, yang langsung menangkap dan memangsa seekor ulat bulu.
Dua jenis predator ulat bulu, yakni tawon merah dan semut rangrang, mulai dimanfaatkan di dua daerah yakni di Kabupaten Jembrana dan Gianyar. Hasilnya, mampu ikut mengendalikan populasi ulat bulu.
Kadis Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali I Made Putra Suryawan, mengemukakan dua Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), sejak Jumat kemarin diterjunkan ke kedua kabupaten itu guna melakukan pengamatan dan pemantauan perkembangan populasi ulat bulu di Bali.
"Tim menemukan, terjadinya pengurangan populasi ulat bulu dengan adanya predator semut rangrang," kata Suryawan, dihubungi okezone, Sabtu (16/04/2011).
Hal itu terlihat saat mengamati populasi ulat bulu yang ditemukan di sebuah pohon kenangan dekat tempat suci di Banjar Satria Kelurahan Pendem. Saat pengamatan, warga yang ikut menyaksikan dikejutkan kedatangan seekor tawon merah, yang langsung menangkap dan memangsa seekor ulat bulu.
"Ulat bulu itu dimakan sampai habis hanya tersisa kepalanya dalam hitungan detik," kata Suryawan menegaskan.
Demikian pula, saat pengamatan di Kecamatan Melaya, tim yang dipimpin Kasi Perlindungan Tanaman Putu Oka Darmawan, pengurangan populasi ulat bulu yang sejak seminggu lalu ditemukan di sebuah pohon jambu air milik warga, akibat dimakan hewan predator.
"Saat ini kami fokus untuk pengendalian ulat bulu, jadi jika ada populasi ulat bulu di pohon atau tempat lain yang tidak ada hama predator, baru kita kendalikan lewat penyemprotan dan injeksi zat kimia, jadi bukan pembasmian melainkan dikurangi populasinya," papar Suryawan.
Karena itulah, Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan rekomendasi larangan menangkap burung maupun hewan predator ulat lainnya. Pihaknya tengah memikirkan untuk memanfaatkan tawon dan semut rangrang demikian juga masyarakat didorong untuk mengembangbiakannya sehingga pengendalian ulat bulu bisa lebihb efektif.
Pihaknya juga telah mengambil contoh ulat bulu untuk diteliti lebih lanjut di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Udayana. Hanya saja, selain lewat predator alamiah, juga ditemukan masyarakat masih mengendalikan mekanis dengan cara membakar di tempat populasinya.
Suryawan yang memimpin langsung tim OPT di Kabupaen Gianyar, memperoleh hasil sama dengan di Kecamatan Melaya dan Penyaringan, Jembrana, yakni berkurangnya populasi ulat bulu di sejumlah tanaman karena adanya hewan predator maupun tindakan mekanis oleh warga
Ulat Bulu Tak "Mempan" Pestisida
Meski sudah disemprot insektisida jenis pestisida, Selasa (12/4/2011), ulat bulu ternyata masih mudah ditemui di lokasi pepohonan cemara di Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, Rabu (13/4/2011). Menurut peneliti utama Balitbang Kementerian Pertanian, Prof Dr Deciyanto Soetopo, mengatakan, hal itu bisa disebabkan beberapa faktor.
Pertama, jenis pestisida yang dipilih kurang tepat atau memiliki kadar yang rendah. Kedua, kemungkinan ada ulat bulu yang tidak terkena langsung dengan semprotan cairan insektisida kimia tersebut.
"Jadi, masih ada yang bertahan hidup sampai saat ini," kata Deciyanto saat meninjau lokasi di Tanjung Duren.
Selain itu, lanjut Deciyanto, ada jenis pestisida tertentu yang tidak menghasilkan efek langsung. "Jenis pestisida kimiawi tertentu efeknya baru bisa terlihat setelah beberapa hari," ujarnya.
Ia mengaku tidak mengetahui jenis pestisida apa yang telah digunakan Suku Dinas Pertanian Jakarta Barat kemarin. Karena itu, pihaknya masih akan terus melihat sejauh mana efek yang dihasilkan dari upaya yang penyemprotan yang telah dilakukan.
Dijelaskan pula, pola hidup ulat bulu kerap menyulitkan upaya pemusnahan. Biasanya, ulat bulu akan bersembunyi pada siang hari dan mudah terlihat pada malam hari.
Upaya pembasmian ulat bulu di Tanjung Duren telah dilakukan Suku Dinas Pertanian Jakarta Barat, kemarin. Insektisida jenis pestisida disemprotkan ke seluruh pohon cemara yang berada di sepanjang bantaran Kali Sekretaris, RT 015 RW 07, Tanjung Duren Utara, Grogol.
Namun, upaya tersebut ternyata belum mampu membasmi tuntas ulat bulu yang menyebabkan gangguan kesehatan, berupa gatal-gatal, yang dialami warga di lokasi tersebut.
Kepala Balitbang Kementerian Pertanian Haryono ditemani sejumlah staf ahli, sore ini meninjau lokasi habitat ulat bulu di Tanjung Duren. Menurut Haryono, mereka bermaksud meneliti lebih lanjut jenis ulat bulu yang berkembang di lokasi tersebut dan faktor-faktor penyebab peningkatan jumlahnya.
Inilah Cara Basmi Ulat Bulu...
Warga DKI Jakarta tidak perlu panik atas keberadaan ribuan ulat bulu yang ada di Tanjung Duren, Jakarta Barat, akan menyebar ke lingkungan lainnya. Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan agar hama ulat bisa dibasmi.
Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta Ipih Ruyani menuturkan, empat cara berikut ini diharapkan bisa memperlambat pergerakan hama ulat bulu. Hal tersebut disampaikan Ipih, Rabu (13/4/2011), di Balaikota, Jakarta. Cara-cara yang bisa dilakukan yakni:- Lakukanlah pengamatan populasi ulat bulu pada permukaan daun bagian bawah sehingga bisa diketahui sedini mungkin apabila perkembangan ulat bulu meningkat. Pengamatan bisa dilakukan dua minggu sekali.
- Terkait sanitasi. Kalau ada pohon-pohon, jangan sempai serasah atau daun-daun keringnya menumpuk karena bisa menjadikan tempat lebih lembap dan mempercepat ulat berkembang biak.
- Lakukan pemusnahan telur dan pupa atau kepompong. Cara ini akan memutuskan siklus metamorfosis menjadi ulat bulu. Apabila sudah menjadi kupu-kupu, kumpulkan lalu dibakar.
- Penyemprotan insektisida yang efektif dilakukan secara massal dan serentak.
Menurut Ipih, dampak ulat bulu pada manusia pada dasarnya ringan, berupa gatal-gatal di kulit. Untuk mencegah gatal-gatal itu, Ipih menyarankan warga untuk menghindari kontak langsung dengan ulat bulu, mencuci tangan, menutup makanan dan minuman, dan langsung segera kontak ke puskesmas dan fasilitas kesehatan terdekat bila gangguan menjadi parah.
Ini Dia Calon Pembunuh Ulat Bulu
Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur sudah berhasil menemukan musuh alami ulat bulu yang menyerang panenan mangga di Jawa Timur.
Kepala Lab Agronomi, Dian Indratmi mendapati pada generasi kedua ulat bulu di Malang bisa mati oleh jamur entomo-patogen (penyakit pada hama), atau jamur Beauveria bassiana yang isolatnya justru diambil dari ulat bulu juga. Ini bisa jadi calon pemberantas ulat bulu.
Dian Indratmi yang dihubungi mendampingi Dekan FPP UMM Dr Damat di Malang (Jawa Timur) hari Senin (11/4/2011) menjelaskan, penelitiannya pada skala laboratorium mendapati ulat bulu bisa mati diserang jamur parasit di tubuhnya. Namun kematian baru bisa didapati pada generasi kedua setelah ulat bulu induk terinfeksi.
Penelitian ini tidak berarti bisa diterapkan pada kondisi serangan ulat bulu massal yang dialami petani mangga Probolinggo. Untuk mencapai upaya itu, katanya, perlu ada uji coba-uji coba lanjutan, terutama menguji efektifitas serangan entomo-patogen pada spesies ulat bulu di Probolinggo.
Sebab ia mengaku belum memiliki contoh spesimen ulat bulu Probolinggo, dan menguji apakah sama dengan ulat bulu yang menyerang di Kota Malang. Sehingga perlu diuji apakah jamur entomo-patogen yang dimilikinya bisa menyerang ulat bulu Probolinggo.
"Sebenarnya saya mengamati kemunculan populasi ulat bulu yang berlebihan sudah sejak satu tahun yang lalu. Namun memang belum muncul serangan ulat bulu yang serius pada lahan tanaman komersial yang berdampak mengancam panen seperti pada lahan mangga di Probolinggo," katanya.
Perihal entomo-patogen, atau penyakit pada hama pengganggu sebenarnya juga sudah muncul pada pustaka. Jamur entomo-patogen sudah diproduksi meski belum secara komersial, terutama oleh balai-balai penelitian.
Semprotan cairan berisi spora entomo-patogen terbukti efektif pada generasi kedua ulat bulu. Ulat bulu generasi pertama masih hidup dan berhasil ber-metamorfosa menjadi kupu-kupu yang bermacam-macam, termasuk kupu-kupu gajah yang berwarna coklat. Lalu kemudian setelah bertelur dan menghasilkan ulat, ulat anakan inilah yang mati karena infeksi entomo-patogen.
Predator ULAT BULU paling efektif adalah semut
Wabah ulat bulu yang terjadi di jawa timur dan bali mungkin disebabkan angin atau badai yang bisa membawa kupu hingga ribuan kilometer, ini perlu penelitian arah angin bulan-bulan tertentu kemarin sebelum kupu-kupu bertelur datangnya dari mana
saya lihat dan dengar di media bahwa penyebab wabah ulat dikatakan burung sebagai predator ulat sudah berkurang, mungkin ini benar, tapi menurutku predator utama yang sekarang sangat langka adalah semut krangrang yang selalu dipanen krotonya untuk dijual sebagai pakan burung
Bila pohon ada semut krangrang atau semut hitam yang di'rambutan' maka buahnya tidak berulat
Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi
saya sengaja membiarkan semut hitam di pohon jambu, dulunya semut hitam di pohon jambu didapat saat beli rambutan, saat dibersihkan ternyata semut berkumpul di dus yang terlipat dekat tempat sampah karena saat itu muncul ide untuk coba-coba maka lipatan dus tersebut saya tempelkan di pohon jambu
setelah beberapa lama semut berkembang sangat banyak, sampai ke pohon belimbing dan buah jambu dan belimbing di kebun saya tidak berulat
dari pengalaman tersebut saya coba melakukan hal yang sama untuk semut krangrang, namun hanya berhasil sebentar karena kemudian aemut krangrang menghilang
Tips mencegah wabah ulat
untuk mencegah penyebaran ada baiknya melakukan pemangkasan ranting dengan tujuan membuang daun, pada daerah yang belum terserang
untuk penanggulangan mendatang mungkin harus mencoba beternak semut hitam atau semut krangrang, selain mencegah ulat bulu keuntungannya adalah buah hasil panen tidak akan ada ulatnya
pengalaman ini dilakukan tidak dengan penelitian, namun hasilnya sudah terbukti buah-buah dikebun saya tidak berulat
bila berguna mohon pengalaman ini dishare, bila ada yang tertarik silahkan melakukan penelitian semut-semut sebagai pencegah hama ulat, bila tak berguna abaikan saja
sumber1, sumber2, sumber3, sumber4
Ulat Bulu Ternyata Juga Bisa Bersiul, lho.....
ni video nya
Ini mereka lakukan sebagai mekanisme pertahanan diri untuk mengusir burung-burung predator. Dari hasil penelitian terhadap ulat bulu sphinx walnut caterpillar atau Amorpha juglandis, asal siulan mereka berasal dari tubuh mereka.Seperti dikutip dari Livescience, setelah diamati melalui video berkecepatan tinggi, para periset berkesimpulan ketika ulat bersiul, mereka menekan kepala mereka ke belakang.
Ini dilakukan untuk menekan rongga di tubuh mereka sehingga suara siulan akan keluar melalui delapan pasang lubang angin di perut mereka.
Masing-masing pasang rongga perut itu berdecit sekitar empat detik, dengan rentang frekuensi yang bisa didengar oleh burung maupun manusia, hingga suara ultrasound.
Saat para peneliti mengamati ulat tersebut, burung warbler (burung yang pandai berkicau) yang hendak memangsa ulat itu, biasanya akan kaget dan lari tunggang langgang ketika ulat mulai bersiul. Siulan ulat bulu ini selalu menyelamatkannya dari sergapan burung warbler.
"Burung-burung ini sepertinya terkaget-kaget dengan siulan si ulat karena tidak mengira akan bunyi tersebut," ujar Jayne Yack, Neuroethologist dari Carleton University, Ottawa Kanada.
berikut penampakannya:


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar